Adapun washilah yang dilarang, adalah berwasilah kepada sesuatu yang menurut keyakinannya, dapat memberikan manfaat dan mudarat kepadanya. Wasilah seperti ini dapat menjerumuskan orang ke dalam syirik, sebagaimana yang dilakukan orang di zaman jahiliah.
Dalilnya, antara lain :
1. Firman Allah Q.S. Az-Zumar: 3 :
“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.”
2. Firman Allah Q.S. Yunus: 18 :
“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfa`atan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafa`at kepada kami di sisi Allah". Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu).”
Orang di zaman jahiliah meminta kepada patung-patung berhala, kerana yakin apa yang mereka sembah itu dapat menolong, dapat memberikan manfaat dan mudarat.
Berwasilah seperti itu, jelas dilarang dan syirik. Penganut thariqat tidak berwasilah seperti itu.
Menghadirkan rabithah bagi murid atau salik, dimaksudkan supaya selalu ingat kepada Syeikh atau Mursyid, sehingga dengan demikian ia merasa takut berbuat kesalahan. Dan apabila dalam berzikir, ia mengalami sesuatu perasaan, penglihatan dan pendengaran, dengan terbukanya hijab maka ia dapat meminta petunjuk kepada Syeikh tentang hakikat peristiwa itu.
Syeikh sentiasa membayanginya sehingga kehadiran Syeikh dalam pandangannya membuatnya kecut atau malu melakukan sesuatu yang bersifat pelanggaran dari apa yang diajarkan Syeikh. Sedangkan Syeikh mengajarinya tata cara (kaifiat) dan adab zikir untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Jadi murid atau salik bukan menyembah Syeikh atau mempertuhan Syeikh. Syeikh atau Mursyid itu sebagai orang yang harus dita’ati dan yakin Syeikh tidak akan menjerumuskan ke jalan yang sesat.
Kehadiran Syeikh dalam pandangannya tidak ubahnya seperti kehadiran Nabi Ya’kub ayah Nabi Yusuf atau kehadiran suami Zulaikha yang bernama Qithfir dalam pandangan Nabi Yusuf ketika ia dirayu oleh Zulaikha untuk melakukan perbuatan tidak senonoh, sebagaimana maksud firman Allah Q.S.Yusuf 24:
“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tiada melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.”
Menurut “Tafsir Ibnu Katsir” juz 2, maksud “Burhana rabbihi” dalam ayat tersebut, adalah rabithah yang dilakukan Nabi Yusuf dengan ayahnya (Ya’kub) atau pada waktu itu terbayang wajah Qithfir suami Zulaikha. Akibatnya Nabi Yusuf tidak jadi melakukan perbuatan tidak senonoh itu. Maka selamatlah ia dari bencana itu.
Apa yang dilakukan Nabi Yusuf itu yakni membayangkan rupa ayah atau rupa suami Zulaikha yang marah-marah, kerana mengetahui apa yang akan dilakukannya hanyalah sebagai wasilah untuk mempermudah menghilangkan godaan nafsu syaitaniah yang sedang melandanya.
Walaupun peristiwa itu menyangkut syari’at Nabi Yusuf namun materinya masih muhkamah (berlaku) bagi umat Muhammad SAW, kerana tidak ada keterangan yang membatalkan atau tidak berlakunya sampai habis masa Nabi Yusuf as saja.
Jadi rabithah kepada Syeikh bagi ahli thariqat tidaklah sama dengan wasilah kepada berhala bagi orang musyrikin di zaman jahiliah.
Ditulis oleh nur al - mu'min
21 October 2010
Wasilah Yang Dilarang
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment